Skip to main content

Featured

Asyiknya Liburan se-Keluarga di Kura-Kura Waterpark Disc.10% via App My Blue Bird

Hayoo.. biasanya apa yang kalian lakukan dikala hari Minggu bersama si kecil dan keluarga??? Kepantai ? Ah lama-lama udah bosen ke alam atau pantai-pantai mulu terus deh secara Lombok mah gak abis-abis pantainya. Hihihi.. 
Nah kalo gitu sini coba aku saranin deh untuk kunjungi salah satu objek wisata asyik buat keluarga di pusat Kota Mataram. Objek wisata ini keren banget, banyak sekali fasilitas yang berada di 1 tempat. Buat yang belum pernah kenal namanya "Kura-kura Waterpark dan Kids Fun House". Buat orang-orang yang sudah kenal namanya biasa menyebutnya dengan "Kura-Kura" saja.
Baca juga : Yuk Intip Asyiknya Liburan Gubernur NTB Zainul Majdi Sekeluarga ke Lombok Elephant Park
Kura-Kura Waterpark - Family Entertainment
“Kura-Kura”, sebuah wahana waterpark dan tempat bermain serta bersantai untuk keluarga. Buat kalian yang berlibur dengan keluarga berikut buah hati, tempat ini bisa dijadikan list kunjunganmu ketika ke Lombok karna termasuk ramah kantong untuk meni…

Cara agar IPK meningkat (TOP)


Kali ini saya akan me-reblog postingan dari sini. Kenapa saya me-reblog ? Karena menurut saya postingan ini wajib kudu dibaca oleh kalian dansaya ingin membagikannya kepada teman-teman saya  khususnya yang akan melanjutkan perjuangannya ke bangku kuliah. So langsung saja gak perlu banyak cincau, let's read this  :

Ada seorang mahasiswa yang bertanya kepada Pak Romi, dosennya.
“Saya mahasiswi semester 4 jurusan Teknik Informatika di sebuah Univesitas di Semarang. Sudah hampir 2 tahun saya kuliah, cuman saya kadang merasa nggak tambah pinter, kalau tambah sibuk sih iya karena tugas dari dosen yang kayak tsunami :) Pingin dengar pendapat mas Romi yang kabarnya waktu kuliah IPKnya 4.0 terus. Sebenarnya di kampus itu apa yang kita dapat sih mas?” 
(Novi – Tembalang, Semarang). 

Pak Romi pun menjawab pertanyaan tersebut dan memberitahunya sedikit penjelasan.
Dik Novi, kita belajar itu, baik di sekolah, di kampus, di universitas dan di lembaga pelatihan untuk meningkatkan KSTAE atau kata orang betawi (a)PeKTeSiPeng, waduh apaan tuh? :) KSTAE itu Knowledge, Skill, Technique, Attitude, Experience alias (a)PeKTeSiPeng (Pengetahuan, Keterampilan, Teknik, Sikap dan Pengalaman). Ini kalau kita ambil contoh orang belajar naik motor dan belajar di kampus, mungkin penjelasannya seperti di bawah:

Knowledge (Pengetahuan): Kita jadi tahu bahwa di motor ada lampu, stang kemudi, rem, gas, spion, bel. Kita juga tahu cara bagian motor itu bekerja termasuk gimana njalaninya. Kalau kita belajar pemrograman, ya kita ngerti lah apa itu fungsi, apa itu variable, juga apa itu object, apa itu method, apa itu attribute. Kita juga diajarin banyak lagi pengetahuan, sistem basis data, rekayasa perangkat lunak, pemrograman berorientasi objek, software project management, dsb. Pokoknya yang selama ini bikin pusing itulah knowledge. Lho kenapa bikin pusing? Soalnya kampus kadang nggak imbang ngasih knowledge dan keterampilan, alias besar teori daripada praktek :) 

Skill (Keterampilan): Kita ngerti cara ngidupin motor. Supaya motor maju harus masukan gigi ke satu dan tekan gas. Kecepatan mulai tinggi masukin ke gigi dua, kalau ada halangan di depan injek rem. Kalau mau belok tekan lampu sen. Di kampus, tugas mandiri, misalnya disuruh buat kalkulator atau program deteksi bilangan prima di mata kuliah OOP itu semua untuk ngelatih keterampilan. Semakin banyak tugas, harusnya makin terampil, cuman kalau nyontek, ya makin bego aja mahasiswa :) Usahakan untuk mengerjakan sendiri tugas, karena tujuannya untuk melatih keterampilan kita, sayang masa depan kita kalau kita sering nyontek dalam tugas mandiri. Nah, IPK itu hanya untuk mengukur mahasiswa di level knowledge dan skill. Jadi peran IPK sebenarnya hanya sampai di sini ;) 

Technique (Teknik): Ternyata keterampilan nggak cukup, karena kita perlu menguasai teknik misalnya supaya motor kecepatan tinggi nggak ngepot. Kita ngeremnya harus dari jauh dan pakai rem tangan plus rem kaki bareng. Mau belok juga harus ambil ancang-ancang, kecepatan diturunkan, baru belok. Nah kalau di kampus, karena mata kuliah banyak dan di setiap mata kuliah ada tugas coding, keterampilan bahasa Java kita jadi meningkat. Kita bisa bahasa Java kromo inggil, ngoko, eh bukan maksud saya kita jadi punya banyak teknik supaya program kita lebih rapi, program kita lebih cepat jadi, punyak teknik untuk bisa reuse code, coding jalan terus walaupun pakai notepad atau emacs, dsb.

Attitude (Sikap): Wah ternyata pengetahuan, keterampilan, teknik saja nggak cukup membuat kita bisa survive di dunia. Kita perlu sikap yang baik dalam mengendarai motor. Lampu lalu lintas itu kalau merah berhenti, jangan nyelonong saja. Kalau nyalip orang juga jangan dari kiri. Hormati pengendara lain, dahulukan perempuan atau yang membawa anak-anak. Jangan asal ngebut di kampung orang, kalau nggak mau benjol tuh kepala. Sikap ini kalau di kampus, ya kalau jadi programmer jangan terus buat virus, atau ngerusak sistem orang, atau malah maling code orang :) Nah ini semua adalah sikap. Kampus yang hanya mengajari orang untuk punya pengetahuan, teknik dan keterampilan tanpa memperhatikan attitude (sikap) artinya mendidik orang pinter tapi sesat di jalan.

Experience (Pengalaman): Pengalaman ini seperti jam terbang. Hanya bisa kita dapatkan kalau kita pernah mengalami kejadian dan pengalaman. Contohnya, karena sering bolak-balik ke Puncak untuk jualan pisang ;) , kita jadi ngerti banget mainin gigi supaya mesin nggak rontok meskipun naik gunung terjal nan macet. Terus juga karena rumah sering kebanjiran, kita ngerti banget lah kira-kira banjir berapa senti yang bikin motor kita nggak bisa jalan. Gimana kalau jatuh, sebaiknya posisi tubuh seperti apa yang membuat luka tidak parah. Semua kita dapatkan dari pengalaman. Pengalaman itu mahal, ya pasti karena kadang ada harga yang harus dibayar. Terus kalau di Kampus, pengalaman kan nggak ada? Hmm pengalaman itu tetap ada, kita KKN, magang, kerja paruh waktu, ngerjain TA itu adalah supaya punya pengalaman. Banyak buat project (software) yang bisa dijual, mulai belajar jualan, latih jiwa enterpreneurship adalah keharusan untuk bekal hidup di dunia IT nan ganas dan kejam.

Pak Romi juga menjelaskan sedikit kiat-kiat agar IPK kita meningkat.
Kiat yang saya lakukan adalah best practice, terbukti bin manjur bisa meraup dolar eh maksud saya nilai yang memuaskan, sudah saya buktikan sejak saya bersekolah di SMA dan 10 tahun di jurusan computer science di Saitama University. Kiatnya pasti banyak ya? Oh tidak, justru sangat sedikit, cuman ada dua. Kiatnya pasti nyontek ulangan atau copy paste tugas mandiri? Tidak sama sekali. Kiat saya halal dan toyib, jauh dari unsur kemaksiatan dan perbuatan tidak terpuji lain. Tertarik? Ikuti terus artikel ini.
Nah kiat mendapatkan nilai raport dan IPK tinggi itu hanya ada dua:

  1. Kejar nilai untuk mata pelajaran atau mata kuliah yang secara umum tidak terlalu disenangi siswa/mahasiswa. Apa itu? Oh banyak, contohnya geografi, agama, kesenian, dsb atau untuk yang kuliah di jurusan computing, ada fisika dasar, teknik kompilasi, automaton/formal language, dsb. Lakukan survey kecil-kecilan ke temen seangkatan atau kakak angkatan, saya yakin banyak sekali mata kuliah yang tidak digemari mahasiswa. Intinya di mata kuliah yang  diemohi mahasiswa  itu, mereka biasanya down nilainya. Nah ini dia kesempatan kita, di saat nilai mereka “pasti rendah”, kita berdjoeang untuk nilai “pasti tinggi” … hehehe. Nah hasil dari tahap satu yaitu kalau ada IPK khusus untuk “mata kuliah tidak populer” kita pasti nomor satu :)

  2. Sudah mantab dengan langkah satu? Langkah dua adalah jangan berhenti, lanjutkan mengejar nilai untuk mata pelajaran atau mata kuliah yang secara umum disenangi siswa/mahasiswa … hehehe. Belajar keras, kerjakan semua tugas, kalau perlu kejar terus dosen kalau ada yang masih nggak ngerti di mata kuliah “populer” itu. Kalaupun kita tidak bisa mendapatkan nilai sempurna alias sedang-sedang saja ya nggak apa-apa, asal sudah berusaha. Yang pasti karena IPK adalah nilai kumulatif dari mata kuliah “tidak populer” dan “populer”, total nilai kita akan tetap tinggi tho. Lha kan kita sudah jadi the first rank untuk mata kuliah “tidak populer” … hihihi.

Akhir semester silakan dilihat nilai IPK atau raportnya, saya yakin nilai anda akan meningkat. Kalau masih belum naik, lanjutkan tahap 1 dan 2 di semester berikutnya. Kalaupun sampai akhir kuliah tidak naik-naik juga, ya apa boleh buat, memang level kekuatan anda seperti itu. Mungkin anda kurang berdoa, kurang sholat malam atau kurang puasa senin-kamis, sehingga ridha dan “lucky” dari yang Diatas tidak menyertai anda. Tapi jangan khawatir, IPK bukan segalanya, masih banyak cara lain dan perlu juga dicatat banyak orang sukses yang IPKnya hancur kok. Untuk yang sudah ber-IPK bagus, jangan cepat puas apalagi sombong dan takabur, karena faktor-faktor itulah yang membuat orang seperti anda tidak sukses ketika masuk ke dunia kerja.

Jadi sekian bagaimana penjelasan dari Pak Romi?? Keren, bermanfaat dan cukup menampar wajah kita bukan??? Benar-benar saya akhirnya mulai sedikit mengerti setelah membaca tulisannya dan merenungkannya dalam-dalam. Dan apalagi artikel ini cocok banget nih sama kita kita yang lagi jadi CALON MAHASISWA uy. Ceilehhh berubah status dari siswa jadi mahasiswa nih. *potongkambing* hahaha.  Perlu kalian tahu kalau Pak Romi itu lulusan dari Universitas di Jepang jurusan Komputer dan dia juga IPKnya 4,0. Wow bukan ??? Udah kuliah di Jepang, IPKnya sempurna lagi. Kurang apa cobak sobat??? Kalau kalian ingin tahu tentang perjalanannya Pak Romi selama kuliah di Jepang, bisa klik disini. Ada juga tulisan - tulisan lainnya yang (sangat) bermanfaat bagi kita lo.

Oh ya hampir lupa, dia juga berpesan pada kita semua, calon mahasiswa dan mahasiswi di manapun berada, jangan cepat menyerah, nikmati pahit dan manis kehidupan kampus, jalani penuh dengan rasa tanggung jawab. Orang tua kita dan juga negeri ini menanti karya kita semua.
Tetap dalam perdjoeangan !


Regards
- W -

Comments

  1. Kalau mahasiswa sehabis lulus dari perkuliahan terjebak dalam pemikiran "cari pekerjaan agar menghasilkan uang" berarti ada yang salah dengan perkuliahan itu.

    Kenapa? Sebab tak ada satu pun mahasiswa yang punya pemikiran untuk menggunakan ilmu yang telah mereka pelajari untuk mengatasi permasalahan sosial yang ada di sekeliling kita.

    Ah, kalau uang itu perkara gampang. Kalau kita menunjukkan diri bahwa kita itu berguna dalam mengatasi masalah sosial, pasti uang bakal datang dengan sendirinya. Trust me!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Well, iya juga sih. Tapi kan kebanyakan orang sekarang setelah kuliah pastinya nyari kerja dong. Kan nyari kerja itu agar mendapatkan uang, setelah itu uang tsb dipakai untuk kebutuhan kita, bukan. Apanya yang salah dengan itu?

      Maka dari itu agar kita mendapatkan pekerjaan, di jaman perkuliahan lah kita harus mempersiapkan diri kita sesiap mungkin. Bukankah begitu tujan utama kita kuliah yaitu untuk memperdalam ilmu dan memepersiapkan kita ke dunia kerja.

      Kalau menurut saya sih, kita bekerja (entah pekerjaan yang lebih condong ke bidang sosial atau ekonomi) jika dimotivasi dengan gaji/penghasilan yang tinggi, pastinya kinerja kita semakin baik dan terpacu untuk melakukan sesuatu dengan lebih profesional, bukan?. :)

      Delete
  2. Iya nih, bener juga tuh katanya pak Romi. TOP dah. semangat ya yang lagi bentar jadi calon mahasiswa :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih... :)
      sering-sering mampir ke blog ku yah

      PS: Oh ya, besok-besok jangan pake anonymously yah. minimal pake name/url :)

      Delete

Post a Comment