Skip to main content

Featured

Yuk, Dukung Germas Hidup Sehat ! Sehat itu Murah, Sakit itu Mahal

Waduh, menurutku tidak ada kata terlambat untuk hidup lebih sehat dan teratur. Kalau kemarin-kemarin kita menjalani hidup tidak sehat, maka sekarang saatnya kita mulai mengubah gaya dan pola hidup lebih sehat.
Ya,   "Gaya dan Pola Hidup Sehat"
Kalimat ini sangat sederhana untuk didengar, tapi kebiasaan inilah yang sering masyarakat Indonesia termasuk aku sendiri masih sulit untuk dilakukan. Buktinya ya masih saja kita sering mengkonsumsi junk food atau gorengan dan sebagainya. Hehehe...
Memang, kenapa sih kita harus ubah pola gaya hidup kita lebih sehat ??

Hmm... kalau kita sehat ya kita bisa terbebas dari berbagai macam penyakit. Aku yakin pasti kalian gak suka kan kalo setiap hari mesti minum obat pahit plus dikasi suntikan ke kulit gitu kalo lagi sakit. Iiiiiyy serem banget kedengerannya....










Sering dengar kalimat " Mencegah lebih baik daripada Mengobati " gak?

Tentu saja kalo sakit pasti harus di obati. Jaman sekarang biaya obat dan biaya rumah sakit lumayan mah…

Penyebab dan Akibat Melemahnya Rupiah hingga Rp.14.000

Warning Alert guys

Elu sekarang mesti melek ekonomi karena sekarang Dollar AS kini tembus mencapai 14 ribu rupiah tepatnya Rp. 14.068 !!! 

"Memangnya kenapa ??"

What !!! Itu rekor terendah selama  15 tahun terakhir setelah zaman orde baru bro. Posisi tersebut merupakan level terendah sejak krisis 1998. Karena dari beberapa sumber tercatat pada tanggal 17 Juni 1998, rupiah pernah berada di puncak rekor terlemah pada Rp 16.650 per dolar AS. Tapi itu dulu bro memang pahit kenyataan yang terjadi karena krisis diseluruh dunia pada tahun 1998. 

OMG! Bayangkan guys, bila bulan Agustus saja nilai tukar Dollar AS naik sebesar Rp.14.000 lalu  pelan-pelan terus menguat hingga akhir tahun 2015 maka apa yang akan terjadi ???    

*pikirkan baik-baik guys elu harus peduli  :)* 

Memangnya elu mau kejadian silam beberapa tahun yang lalu bakalan terulang kembali di tahun ini ?! No! Sudah cukup pengalaman pahit yang dialami Indonesia akibat terimbasnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sehingga akibatnya tidak hanya berimbas pada bidang ekonomi saja, tapi juga pada politik, hukum, budaya dan sosial tentunya. Sungguh tahun yang mengerikan saya mendengarnya tentang apa yang terjadi di tahun 1998! (Syukur saja pada saat itu belum lahir :))

Informasi resmi dari website BI mengenai kurs mata uang terhadap rupiah pada tanggal 24/8/2015
Kalian lihat page screen Kurs Dollar terhadap Rupiah diatas? Lihat Kurs jual USD paling bawah. Udah? 

Memang beberapa pekan yang lalu rupiah masih tetap menduduki sekitar Rp.13.000 an tetapi pada hari ini rupiah sungguh melemah. Entahlah ini membuat saya khawatir dengan dampaknya terhadap perekonomian di Indonesia. Terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS ini pun membuat saya penasaran tentang apa sih yang menyebabkan hal ini bisa terjadi dan akibatnya melemahnya rupiah di masyarakat bro. 

What happen nih kok bisa rupiah melemah?  Berikut ini beberapa penyebab, akibat dan solusi yang bisa saya opinikan (tentu saja karena saya mahasiswa ekonomi :3 ) mengenai terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. 

PENYEBAB :




AKIBAT / DAMPAKNYA :

2.  Berdampak pada naiknya harga-harga barang kebutuhan pokok.

Misalnya saya ambil contoh naiknya harga daging ayam dipasaran. Para peternak lokal karena bahan baku untuk produksi pakan ternak seperti pakan ayam itu terdiri dari sekitar 40% jagung yang diimpor dari Brazil dan Argentina. Hmmm mengapa diimpor? disebabkan jagung lokal kurang berkualitas maka dari itu para pembuat pakan ternak mau tidak mau mengimpor jagung walaupun mahal. Karena mahalnya bahan pakan tersebut sehingga produksi akan pakan menurun untu menekan biaya, lalu harga pakan tinggi dan menyebabkam penurunan akan permintaan pakan ternak. Setelah itu terjadi kelangkaan akan ternak yang dibarengi dengan naiknya harga ternak yang sudah dipotong seperti ayam, sapi dan lainnya. Tentu saja karena semua daging harganya naik, maka daya beli masyarakat akan daging pun turut juga menurun. Ibu-ibu memilih lebih membeli kebutuhan pasar alternatif lain yang lebih murah ketimbang daging yang harganya mahal. Huftee.... Kalo pembelinya tak ada, maka penjual daging pun merugi. 

Hmmm begitu pula hal itu juga akan terjadi pada sektor pertanian seperti beras, cabe dan lainnya, maka dari itu tak dipungkiri lagi masyarakat pun mulai resah terhadap naiknya harga-harga barang pokok dipasar.



SOLUSI :

Comments